Suaka Rhino Sumatera, satu-satunya pusat konservasi badak di dunia

Guyz, kalian pada tau gak sih kalau di Lampung itu ada Pusat Konservasi Badak Sumatera?

Yes ada lho tempat semacam ini di Lampung, dan beruntungnya saya termasuk salah satu pengunjung di sana. Jika mengingat sifat asli Badak yang cenderung soliter dan tertutup pantas rasanya jika tidak sembarang orang bisa memasuki kawasan Suaka Rhino Sumatera (SRS). Bahkan jika tujuan-mu datang ke sana bermodalkan surat penelitian pun belum tentu diizinkan untuk memasuki kawasan ini. Suaka Rhino Sumatera atau juga di kenal dengan Sumatran Rhino Sanctuary menjadi satu-satunya Pusat Konservasi badak semi insitu di dunia. Terletak masih satu kawasan dengan Pusat Latihan Gajah Way Kambas di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung dengan jarak tempuh kurang lebih 2,5 – 3 jam dari Bandar Lampung. Setidaknya terdapat 200 populasi Badak liar yang tersebar di hutan Sumatera namun hanya berkisar 60 badak saja yang masuk konservasi Suaka Rhino Sumatera untuk dipersiapkan badak-badak ini lepas liar di habitat aslinya. Lokasinya berada di tengah-tengah kawasan hutan, terletak antara ruas jalan Plang Ijo dan Way Kanan, dengan jarak tempuh kurang lebih 8km dari pintu masuk Plang Ijo.

 

Perjalanan menuju Suaka Rhino Sumatera
Peta Lokasi Suaka Rhino Sumatera
Matahari pagi menyambut kedatangan kami di Suaka Rhino Sumatera

 

Perjalanan menuju lokasi Suaka Rhino Sumatera tidak memakan waktu cukup lama mengingat di saat kemarin kami berangkat bersama rombongan menggunakan pengawalan voorrijder sehingga kami hanya cukup menempuh 2 jam perjalanan dari Bandar Lampung.  Dari plang ijo pintu masuk Way Kambas kami menuju arah lurus untuk langsung menuju lokasi Suaka Rhino Sumatera, dengan jarak sekitar 7-8km dengan waktu tempuh 45 menit menembus hutan kami tiba di lokasi Suaka Rhino Sumatera. Di sambut oleh Kepala Balai Suaka Rhino Sumatera Bapak Subakir yang menceritakan sejarah singkat pendirian Suaka Rhino Sumatera, kami langsung menuju kandang Badak Sumatera pertama. Adalah Harapan dengan nama kondang “Harry” seeokor Badak Sumatera Jantan yang lahir di kebun binatang Cincinati Zoo, Ohio, Amerika Serikat. Badak aseli Sumatera yang lahir dari pasangan badak sumatera bernama “Ipuh dan Emi”. Harry menjadi badak sumatera terakhir yang “diimpor” dari Luar Negeri untuk di kembalikan ke habitat aslinya di belantera Hutan Sumatera. Harry muda harus menempuh perjalanan kurang lebih 53 jam untuk sampai kembali ke tanah air. Dengan terlebih dahulu di pulangkan “Andalas”  kakak kandung dari “Harapan”.

Harapan sang Badak Sumatera penghuni Suaka Rhino Sumatera

Sedikit cerita menarik tentang “Andalas” sejak kepulangannya ke tanah air dan melalui masa penyesuaian yang cukup baik, “Andalas” kemudian di jodohkan dengan “Ratu” seeokor badak sumatera betina yang di temukan di labuhan ratu. Hasil perkawinan “Andalas” dan “Ratu” membuahkan se-ekor badak sumatera jantan yang kemudian di beri nama “Andatu”. “Andatu” lahir pada 23 Juni 2012 dan menyandang rekor sebagai badak sumatera pertama yang lahir di penangkaran semi alami (in situ) dalam 124 tahun terakhir di Asia. Dan so pasti dong kelahiran “Andatu” menjadi kabar bahagia bagi dunia di tengah segala kekhawatiran dan keprihatinan akan jumlah populasi badak yang tidak mencapai angka 100 ekor di alam liar. Adik kandung “Andatu” yang lahir 12 Mei 2016 di beri nama “Delilah” dan gak tanggung-tanggung, Presiden Jokowi sediri yang langsung memberi nama bersamaan dengan peresmian Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Delilah memiliki multi tafsir, pertama Delilah adalah kekasihnya manusia kuat, Samson yang terkenal dalam cerita film. Kedua bisa di artikan sebagai Di’l Allah yang merupakan bahasa arab berarti anugerah dari Allah. Dan ketiga dalam bahasa Jawa ada juga tafsiran “Ndelalah Kersaning Allah” yang artinya keajaiban atas karunia Allah.

Menginjak kunjungan ke kandang badak berikutnya kami di arahkan untuk melihat secara langsung “Ratu” dan “Delilah”. Menuju kandang sepasang Induk dan anak ini setiap pengunjung diwajibkan mencelupkan alas sepatunya ke dalam cairan anti septik dengan tujuan menjaga kesterilan kawasan kandang mengingat “Delilah” yang masih menyusu pada induknya dan sifat badak yang cukup rentan pada berbagai macam parasit. FYI juga nih guyz setiap pengunjung yang mau masuk ke kawasan Suaka Rhino Sumatera ini juga di sarankan tidak melewati kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terlebih dahulu demi menjaga kesterilan kawasan Suaka Rhino Sumatera.

Cairan Antiseptik untuk alas kaki sebelum masuk ke kandang Ratu dan Delilah

“Delilah” terlahir dengan berat badan 460kg saat ini di usianya yang hampir mencapai dua tahun, doski udah demen banget melahap daun tumbuhan seperti akar merah, akar mencret dan pulai (guyz, walaupun emak pelaku Food Combining koq rasanya tetep aneh ya kalau di minta ngudapin ini segala jenis rumput yang di konsumsi Delilah 😊 ). Menurut penuturan sang perawat (Keeper) perkembangan “Delilah” lebih cukup berkembang di bandingkan sang kakak “Andatu”. Di usia 9 bulan Delilah telah tumbuh cula sementara sang kakak di usianya yang dua tahun saja belum tumbuh cula. Perawatan di  Suaka Rhino Sumatera terbilang cukup lengkap dan memadai, perawatan kesehatan pun dilakukan setiap hari. Tubuh mereka di bersihkan dari lumpur, saat dimandikan keseluruhan tubuhnya dilihat apakah ada luka atau tidak. Termasuk gangguan lintah dan lalat caplak penghisap darah yang tidak boleh ditolerir demi kelangsungan hidup badak sumatera.

Harapannya semua badak betina di Suaka Rhino Sumatera saat ini mampu memberikan keturunan. Adalah Rosa, dan Bina dua badak betina yang secara fisiologis masih memiliki siklus reproduksi dan saluran reproduksi yang tokcer 😊. Paling tidak masih terselip harapan bahwa Ratu masih bisa melahirkan lima ekor badak sumatera dari rahimnya. Terkait dengan penambahan populasi badak sumatera senada dengan captive breeding ini berhubungan dengan populasi liar. Badak-badak yang baru lahir sebaiknya bisa dilepasliarkan ke hutan belantara di masa mendatang.

Namun pastinya untuk mencapai kondisi ideal tersebut butuh banyak faktor pendukung. Pertama, kesehatan badak harus terjamin secara fisik maupun reproduksi. Kedua, habitatnya aman dan ketersediaan pangan yang cukup. Ambillah contoh Andatu dan Delilah perlahan akan diminimalisir untuk bertemu dengan manusia dengan segala aktifitasnya, agar menumbuhkan sifat liarnya sebagaimana perilaku aslinya di alam agar segera muncul. Dengan begitu kelak di saat habitat alami mereka benar-benar ada, mereka siap untuk dilepasliarkan.

Semoga dengan kehadiran Suaka Rhino Sumatera dapat memberikan kondisi yang lebih baik untuk pertambahan populasi Badak Sumatera terutama para Pejantan Tangguh yang siap memberikan keturunan bagi para Badak Betina serta agar semakin banyak Harry yang lain dapat hidup secara bahagia di alam liarnya.

Emak bersama Bu Wiwin Monang

 

 

Bandar Lampung, 27 Januari 2018

Puspaning Dyah, saat menulis adalah mengulang kisah

 

Follow me on Social Media

8 Comments

  1. Novrian Erintias Haqiki February 2, 2018 at 1:52 pm

    Bagus nih bisa terus melestarikan badak sumatera. Melihat jumlah populasi nya yang terus menurun dari tahun ke tahun.

  2. Kang Erman February 2, 2018 at 3:00 pm

    Semoga sumber daya manusianya banyak yang sadar akan kehidupan badak, dan tidak merusak lingkungan dimana kehidupan badak berlangsung.

  3. Dwi Septiani February 6, 2018 at 3:06 am

    Wow, saya seriusan baru tau mbak kalo di Lampung ada pusat konservasi badak semi insitu. Satu-satunya di dunia pula ya. Salut sama orang-orang yang terjun langsung untuk melestarikan kehidupan badak. Semoga kita juga termasuk orang-orang yang peduli akan alam dan seisinya.

  4. agustinus leantoro February 9, 2018 at 7:23 am

    wow, keyenn.. aku aja yang bisa dikatakan lebih dekat jaraknya belum pernah ke Suaka Rhino Sumatera… ah jadi pengen nih.. tapi agak susah ya izin masukknya..

  5. Naqiyyah Syam February 9, 2018 at 7:53 am

    Keren ya Mbak bisa lihat badak secara langsung aku yang anak Kehutanan belum lihat huhuhu…

  6. Jalan2Aisyah February 9, 2018 at 7:54 am

    Wah nama badaknya bagus-bagus ya. Jadi pengen lihat badak juga

    1. sasa March 31, 2018 at 4:25 am

      hihihihi iya mi, nama badaknya keren yang ngasih nama juga gak tanggung2, presiden RI sampai turun tangan ngasih nama salah satu badak

  7. Ijung Hill June 14, 2018 at 6:48 pm

    Tertarik keh dong sing mbahas satwa2 dan alam liar
    Gelem nemen lah aku dong diajak meliput satwa liar di alam liar langsung
    Wkwkwkwkw

Leave a Reply