Mendongeng Bagian dari Upaya Membangkitkan Empati dan Simpati

Secara etimologi Dongeng merupakan bentuk sastra lama yang bercerita tentang suatu kejadian luar biasa yang penuh dengan khayalan (fiksi) yang di anggap oleh masyarakat adalah suatu hal yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng bisa juga di terjemahkan sebagai bentuk cerita tradisional atau cerita yang di sampaikan turun temurun dari nenek moyang. Dongeng berfungsi menyampaikan ajaran moral (mendidik) dan juga menghibur.

-Sumber www.wikipedia.com-

Mendapat materi baru di Kelas Bunda Sayang IIP tentang Mendongeng untuk anak menjadi sebuah tantangan berat untuk saya. Lebih banyak saya hanya menceritakan isi buku dongeng atau buku cerita sejenis sebagai pengantar tidur maupun sebagai salah satu kegiatan positif saat proses membersamai mereka.

Mendongeng berarti kegiatan aktif membacakan dongeng, dan untuk saat ini saya masih tergolong bukan tipe pendongeng yang baik, bagaimana tidak jika sang pendongeng malah justru lebih cepet ngantuk dan tertidur dengan sendirinya di bandingkan anak-anak yang di bacakan dongeng ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Yang membuat menarik dari tantangan kali ini, ร‚ย sebenarnya banyak hal bisa di gali sebagai objek mendongeng terutama jika menyangkutpautkan dengan banyak materi pelajaran yang di dapatkan Kak Nad di sekolah formalnya yang hampir mendekati waktu-waktu UAS. Dan menelisik bahwa gaya belajar Kak Nad yang cenderung Kinestetik, di mana akan lebih mudah memahami cerita dan pemahaman-pemahaman positif yang saya sampaikan melalui berbagai gerakan anggota tubuh.

 

Mungkin benarlah jika kita memiliki niat baik, maka akan di permudah oleh Allah SWT. Menjemput Kak Nad pulang dari sekolah formalnya adalah ritual siang yang jarang sekali absen dari jadwal harian saya. Hari ini saya memang sedikit terlambat menjemput Kak Nad karena satu dua dan tiga hal terkait tugas dan tanggung jawab domestik.

 

Sesampainya di sekolah nampak terlihat putri kecilku berlinang air mata dan tersedu, mengadu keisengan teman sekelasnya yang “mencantelkan” kerudung Kak Nad di atas ranting pohon. Ulalaaaaa… hhmmmmm… inilah kesempatan pertama saya “mendongeng” di hadapan Nad dan Yeza. Dengan susah payahlah kutahan isak tangianya dengan janji manis akan ku suguhkan cerita luar biasa di dalam mobil selama perjalanan pulang kami.

 

Gadis kecilku menurut dan berdamai dengan rasa kecewa serta sakit hatinya atas keusilan sang kawan. Di dalam mobil, di mulailah “Dongeng” pertama bunda hari ini.

Dongeng di mulai dengan latar hutan belantara yang rimbun penuh dengan tumbuhan liar dan semak belukar, Alkisah tersebutlah seorang pemuda bernama Adin (kebetulan teman yang mengisengi Kak Nad bernama Dani), Adin sang penggembala domba tersesat jauh ke dalam hutan karena keisengannya mencari buah ciplukan, hingga tanpa sadar ia masuk terlalu jauh ke dalam hutan.

 

Dengan minimnya perbekalan akibat kemalasan Adin mengisi kembali kantong air hingga habis tak bersisa isinya kembali serta kotak bekal makanan yang tidak di temukan di dalam tasnya akibat kelalaian Adin tidak mengembalikan bekal makanan ke dalam kantongnya kembali. Singkat cerita Adin dapat berhasil lolos dari hutan dan kembali ke rumah dengan sehat sentausa karna pertolongan Allah SWT.

 

Setelah sessi mendongeng siang tadi, saya meminta Nad mengulang setidaknya beberapa point yang menjadi sorot utama dari cerita saya. Dan ia pun menyimpulkan bahwa meletakkan segala sesuatu harus pada tempatnya agar orang lain tak mengambilnya. Persis sekali dengan apa yang di alami Nad hari ini, di mana ia dengan tidak sengaja meletakkan kerudung di tempat tidak biasanya hingga menjadi korban “keusilan temannya”

 

Bismillah ya nak, kita lalui tantangan di kelas Bunda Sayang IIP kali ini dengan semangat membara ๐Ÿ˜ƒ

 

 

Bandar Lampung, 30 November 2017

Puspaning Dyah, mendongeng adalah mengasah kreatifitas

 

 

Follow me on Social Media

Leave a Reply